Jembatan Kereta Api Dihantam Banjir Pada Tahun 1892

BENCANA ALAM BANJIR sudah sering benar terjadi di negeri kita ini yang acap kali menghancurkan fasilitas publik. Wilayah Lembah Anai yang diselingi bukit dan sungai yang deras sering menjadi sasaran banjir bila turun hujan mentuyuh di daerah darek. Belum lama berselang terjadi lagi bencana banjir di Lembah Anai yang memutus jalur jalan raya antara darek dan Padang.

Foto yang kami sajikan dalam rubrik Minang Saisuak di harian Singgalang Minggu kali ini merekam jembatan kereta api yang rusak berat akibat banjir bandang di Lembah Anai. Foto ini, yang berukuran 21,5 x 28 cm., dibuat C. Nieuwenhuis tahun 1892. Lokasi jembatan yang rusak ini berada di Batubadukuang. Banjir tersebut menghacurkan jalur kereta api yang belum lama dibangun oleh Belanda.

Seperti telah dicatat dalam sejarah, tahap pertama pembangunan jalan kereta api di daerah Minangkabau dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1891-1894 antara Teluk Bayur dan tambang batubara Sawahlunto yang panjangnya 158 km. melewati punggung Bukit Barisan. Jalur antara Kayutanam dan Batu Taba sepanjang 43 km. adalah yang paling sulit: dengan tanjakan mencapai 773 m. rel kereta api yang melewati jalur ini harus diberi gigi yang merupakan rel gigi terpanjang di Indonesia. Dengan topografi yang berbukit-bukit dan berhutan lebat, pembangunan jalan kereta api di daerah ini sangat sulit. Rel dibentangkan meliuk-liuk di sela-sela lembah dan melewati sungai-sungai deras yang harus dihubungkan dengan jembatan. Di beberapa bagian dibangun terowongan di bawah bukit untuk jalur rel tersebut. Baru setahun pembangunan jalan kereta api itu berlangsung, banjir bandang telah menghantamnya, seperti terekam dalam foto ini. Tapi pembangunannya tetap diteruskan, dan hasilnya seperti masih dapat dilihat oleh masyarakat Minangkabau sampai kini: sebuah jalur jalan kereta api yang indah antara darek dan dataran rendah Padang dan Pariaman. Sayangnya di beberapa tempat jalur jalan kereta api ini sudah tak terpelihara.


sumber:
(Sumber foto: KITLV Leiden). Suryadi Leiden, Belanda.

0 Comments


EmoticonEmoticon