Kantor Pos Padang Tahun 1911

Tradisi berkirim surat tentu terkait dengan budaya keberaksaraan (literacy). Sejarah mencatat bahwa dinas pos di negeri kita ini diperkenalkan oleh orang Belanda. Sebelum dinas pos ada, surat diantarkan langsung ke alamat oleh pengantar khusus. Namun, tradisi menulis surat tampaknya sudah ada sebelum orang Eropa datang ke Nusantara. Dalam kaitannya dengan hal ini, orang Minang agak unik: jika berkirim surat mereka cenderung memakai bahasa Melayu; kalau berbicara secara lisan (misalnya anak di rantau menelepon ibunya di kampung) mereka sering memakai bahasa Minang.

Bagi masyarakat Minangkabau yang suka merantau, surat adalah media yang penting untuk menghubungkan para perantau dengan keluarga yang ditinggalkan di kampung. Bila rindu kepada tepian tempat mandi membuncah dalam jiwa dagang Minang di rantau, maka ditulislah surat untuk menghantar rindu itu ke kampung. Surat itulah sebagai pengganti diri. Lamalah Tuan dagang tinggalkan / Habislah tahun berganti zaman / Satupun tidak dagang kirimkan / Dikarang surat kaganti badan, demikian tulis Syekh Daud Sunur dalam Syair Sunur (1830-an) yang ditulisnya dari tempat perantauannya di Trumon (Aceh Barat) kepada sanak familinya di Sunur, Pariaman. Banyak teks sastra Indonesia modern awal yang berlatar Minangkabau menggambarkan adegan berkirim-kiriman surat.

Dalam Postingan kali ini menurunkan gambar Kantor Pos Padang yang berbentuk kartu pos. Dijelaskan bahwa kartu tersebut adalah a hand coloured postcard of Padang, Sumatra Indonesia, yang memperlihatkan sebuah pemandangan Kantor Pos Padang dan kawasan sekitarnya yang indah. Kartu pos ini diterbitkan oleh Toko A.H. Tuinenburg di Padang pada tahun 1911 (kode penerbitannya 11823). Jadi, jika dihitung dari tahun ini, umur kartu pos ini genap 100 tahun.

Terlihat rimbunan pepohonan di sekitar kantor pos ini. Di depannya terbentang jalan besar bertrotoar cukup lebar yang sekarang bernama Jalan Sudirman. Ada beberapa foto lain tentang Kantor Pos Padang yang berusia lebih tua yang tersimpan di Perpustakaan KITLV Leiden dengan bentuk bangunan yang agak berbeda dengan yang telihat dalam foto ini (mudah-mudahan akan dapat kami turunkan pada kesempatan lain).

Di zaman BlackBerry ini, mungkin fungsi kantor pos sedikit menurun. Tapi tetap ada yang hangat pada surat. Walau sms-sms darimu mengketutus masuk ke HP-ku setiap hari, kadang-kadang aku masih merindukan suara tukang pos yang mengantar surat-suratmu yang kertasnya berhiaskan gambar mawar merah, dengan perangko di sampulnya bercap stempel Kantor Pos Padang. Tidak seperti sms-sms yang hambar dan tak berwarna itu, ketika membuka sampul suratmu, hatiku selalu berdegup kencang, karena di akhir kata-katamu yang manis, yang sering diselingi dengan pantun, selalu kutemukan cap bibirmu bertinta merah.


sumber:
Suryadi Leiden, Belanda. (Sumber foto: http://cgi.ebay.nl)

0 Comments


EmoticonEmoticon