Pantun Mudo Minangkabau

Tema pantun-pantun muda Minangkabau itu merupakan bagian dari apa yang disebut oleh R.J. Chadwick (1986) sebagai heroic biography lelaki Minangkabau. Pantun-pantun Minangkabau, menurut Chadwick, merepresentasikan gejolak jiwa lelaki Minangkabau: keinginan untuk merantau dan kegamanangan ketika hendak meninggalkan kampung, sakit-senang yang dialami di perantauan (termasuk kerinduan kepada keluarga matrilineal dan kekasih hati yang ditinggalkan di kampung), persaingan dalam mencari jodoh yang sangat diwarnai oleh ideologi materialisme, dan ekpresi keinginan untuk pulang kembali ke ranah bunda. Dalam pantun-pantun Minangkabau itu juga terefleksi pandangan dan harapan orang di kampung terhadap para perantau.

Estetika pantun Minangkabau berbeda dengan estetika pantun Melayu. Dalam tulisannya yang lain, Unconsummated Methaphor of Minangkabau Pantun (Majas tak sempurna dalam pantun Minangkabau) (Indonesia Circle 62, 1994:83-113), Chadwick mengatakan: sulitnya menafsirkan pantun Minangkabau terletak pada watak bahasa yang digunakan yang sangat samar dan susah dipahami. Orang harus memahami konteks budaya dan sosial pantun secara keseluruhan untuk menafsirkan pantun tertentu, dan orang perlu tahu apakah arti pantun itu secara umum.

Hal itu juga terefleksi dalam pantun-pantun Muda Minangkabau yang sangat pekat dengan berbagai perlambangan dan metafora. Baik perempuan maupun laki-laki dilambangkan dengan berbagai jenis burung/unggas, benda langit dan jenis-jenis logam mulia dan jenis-jenis kain.

Metafora dan makna konotatif adalah suatu keharusan dalam pantun Minangkabau. Dalam pepatah Minangkabau dikatakan kato baumpamo, rundiang bakiasan. Orang yang tidak mampu memakaikannya dianggap bebal, karena manusia tahan kieh, binatang tahan palu. Simak misalnya dalam kutipan pantun muda di bawah ini:

Balayia kapa ka Puruih,
Singgah lalu ka Balai Cino,
Tolan sapantun cindai aluih,
Alun dipakai lah manggilo.

Kain putiah sasah jo sabun,
Bao ka aia buang daki,
Tolan sapantun kasah ambun,
Lusuah jo apo ka diganti?

Betapa eloknya baris isi bait pertama di atas dalam menyatakan kecantikan seorang gadis (yang halus lembut bagai kain cindai) sehingga memandangnya saja sudah membuat para pemuda jadi tergila-gila. Begitu juga pada baris kedua: si gadis yang putih cantik (bagai kain kasa[h] embun) sulit dicari tandingannya. Sementara bait berikut ini mengekpresikan perasaan hati seorang gadis kepada pemuda yang ditaksirnya.

Anyuik parian batali rumin,
Panuah barisi galo-galo,
Tuan sapantun kilek camin,
Di baliak gunuang tampak juo.

Cinta seorang pemuda yang ditolak atau kekasihnya yang berpindah ke lain hati adalah tema yang cukup menonjol dalam pantun muda Minangkabau. Ini adalah semacam potret sosial di mana dalam kebudayaan Minangkabau yang matrilineal, kaum lelaki berada pada posisi yang labil secara material. Oleh karena itu mereka pergi merantau untuk mengumpulkan materi dan juga ilmu. Lihatlah refleksi yang demikian itu dalam kutipan di bawah ini.

Ayam kinantan Sutan Bantan,
Disabuang anak Rajo Jambi,
Tolan lah buliah cincin intan,
Loyang tabuang anyo lai.

Bungo naneh bungo cimpago,
Lalu dikarang dipasuntiang,
Tolan ameh kami timbago,
Dima kabuliah samo kuniang.

Anak buayo dalam sumua,
Mamakan ikan jo kulari,
Apo kadayo bintang timua,
Bulan lah jinak jo matohari.

Kedua bait di atas menggambarkan perasaan minder seorang pemuda (yang mengibaratkan dirinya umpama loyang, tembaga dan bintang timur) sebab dari segi ekonomi dia berkekurangan. Oleh sebab itu kekasihnya pergi meninggalkan dirinya dan jatuh hati kepada pemuda lain yang lebih tampan dan kaya (diibaratkan sebagai cincin intan, emas dan matahari).

Penggambaran perasaan dalam pantun-pantun muda Minangkabau sangat hiperbolis. Demikianlah umpamanya, hal ini dapat dikesan dalam lukisan tentang besarnya rasa cinta kepada sang kekasih, seperti dapat dikesan dalam bait-bait berikut ini.

Hari sadang wakatu luhua,
Layang-layang babuni juo,
Tujuah hari di dalam kubua,
Kasiah sayang takana juo.

Pucuk katela pisang hutan,
Ureknyo dikakeh balam,
Allah Taala tolan bukan,
Takana juo siang-malam.

Antaro Kaliang jo Malako,
Di sinan bamban ditugakan,
Antaro kaniang dengan mato,
Di sinan dandam ditinggakan.

Panjang joroknyo Batu Mandi,
Tampak nan dari Pulau Pandan,
Kok tak takuik kami kamati,
Diguntiang hati dikirimkan.
Bungo cimpago kambang biru,

Tumbuah di Pulau Karek Rotan,
Bukan mudah manahan rindu,
Bak aia ditampuah sampan.
Aua mudo aua balanak,

Palapah lampaikan juo,
Tujuah jando sambilan anak,
Kaua kito sampaikan juo.
Siriah sakapua kurang sadah,

Antakan ka rumah Malin,
Amuah sakubua kurang tanah,
Amuah sakapan kurang kain.

Kesan hiperbolis itu juga terasa dalam bait-bait yang menggambarkan penderitaan seseorang yang ditinggalkan kekasihnya, seperti dalam kutipan berikut ini.

Bungo cimpago satu halai,
Tumbuah di kubua Tuan Haji,
Aia mato salamo carai,
Elok kasumua bakeh mandi.

Gaya bahasa yang sama juga dipakai dalam memuji gadis atau bujang yang ditaksir, seperti dapat dikesan dalam kutipan berikut.

Pacahlah cipia dilayangkan,
Pacah diimpik daun tarok,
Bukan sadikik disayangkan,
Muko bak cando minyak lalok.

Parapati tabang jo punai,
Tabang maraok masuak rimbo,
Bungo satangkai tigo bagai,
Tumbuahnyo dalam Lauik Cino.

Kayu ranggeh di Pulau Jantan,
Tampak nan dari Kurai Taji,
Cincin ameh parmato intan,
Bari mamakai jari kami.

Dari kutipan di atas tampak bahwa dalam pantun muda Minangkabau kata ganti yang sering dipakai untuk orang yang ditaksir adalah tolan, dan seberani-beraninya paling banter yang dipakai hanya kata sapaan Adiak dan Tuan. Kata cinta dalam arti denotatifnya jarang tersua; yang sering dipakai adalah kata dandam (ingat istilah dendam rindu). Sedangkan untuk si aku lirik dalam pantun-pantun itu, sering dipakai kata kami.

Dalam kebudayaan manapun asmara tak lepas dari kehidupan anak muda, sejak dahulu sampai kini. Adaik mudo manangguang rindu, adaik tuo manangguang ragam, kata salah satu ungkapan Minangkabau. Dan jika berbicara mengenai asmara, tentu ada unsur erotismenya. Pantun-pantun muda Minangkabau juga mengandung unsur erotisme itu, seperti dapat dikesan dalam kutipan berikut ini.

Kamuniang di tapi tabek,
Jatuah malayang sularonyo,
Putiah kuniang gigi barapek,
Panau mambayang di dadonyo.

Limau manih condong ka Tiku,
Tiku nan condong ka Pariaman,
Hitam manih singkokan pintu,
Dagang tajelo di halaman.

Setiap kebudayaan memberi limit tertentu pada ruang verbalnya untuk mengekspresikan erotisme. Tak ada kebudayan yang steril dari erotisme, karena erotise adalah bagian dari kehidupan manusia. Dalam kebudayaan Minangkabau ruang verbal untuk melukiskan erotisme itu tentu diatur juga oleh unsur agama Islam. Dari koleksi pantun klasik Minangkabau yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, dua bait pantun di bawah ini saya anggap paling erotis (mohon jangan diukur dari dunia anak muda Minangkabau saman sekarang).

Ujuang Cino tanahnyo kuniang,
Nan badakek jo Bangkahulu,
Ambo batanyo ka nan Kuniang,
Apo nan bangkak dalam baju?

Apo badantang di parahu?
Tupai malompek ka halaman,
Nan bangkak dalam baju,
Itulah surugo tampaik tangan.

Mungkin perlu untuk menerbitkan koleksi pantun-pantun klasik Minangkabau yang terdapat dalam naskah-naskah Minangkabau yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden itu. Penerbitan kembali koleksi pantun-pantun tersebut tentu akan banyak manfaatnya: para seniman dan praktisi musik pop Minangkabau, misalnya, boleh mengambil pantun-pantun itu untuk gubahan lagu, atau paling tidak menggali inspirasi darinya. Tentu tidak kurang juga manfaatnya bagi ilmu pengetahuan. Namun, yang paling penting adalah bahwa melaluinya kita dapat melengkapi pengetahuan kita mengenai estetika pantun Minangkabau.


sumber:
Suryadi, alumnus Jurusan Sastra Daerah/Prodi Bahasa & Sastra Minangkabau, Universitas Andalas, dosen dan peneliti di Institute for Area Studies / School of Asian Studies, Leiden University, Belanda.

0 Comments


EmoticonEmoticon