Potret Bandara Tabiang Saisuak (1976)

Sejarah penerbangan komersial di Indonesia berawal sejak 1920-an. Adalah KNILM (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij, Royal Dutch Indies Airways) yang menjadi cikal-bakal perusahaan penerbangan nasional Indonesia Garuda Indonesia Airways. KNILM didirikan tahun 1928 semasa zaman kolonial. KNILM diambil alih oleh Pemerintah Indonesia setelah kita merdeka. Secara resmi hari lahir Garuda Indonesia Airways adalah 29 Januari 1949.

Potret Bandara Tabiang Saisuak (1976)

Setelah itu muncullah perusahaan penerbangan Merpati Nusantara Airlines. Merpati secara resmi berdiri dan mulai beroperasi pada 6 September 1962. Mula-mula wilayah operasinya di Pulau Kalimantan, tapi kemudian diperluas ke wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Kehadiran perusahaan penerbangan nasional Indonesia Garuda dan Merpati makin memperkuat jembatan udara antar wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau itu.

Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan satu foto nostalgia pesawat Merpati yang melayani rute penerbangan Jakarta – Padang (Bandara Tabing). Bandara yang didirikan tahun 1967 ini menjadi gerbang udara utama Sumatera Barat dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia dan juga dengan negara jiran Malaysia dan Singapura.

Foto ini dibuat sekitar tahun 1976, masa Sumatera Barat diperintah oleh Gubernur ‘Ajo’ Harun Zain. Dalam foto ini terlihat pesawat jenis Vickers Viscount yang dipakai oleh Merpati, yang sekarang sudah jarang dioperasikan di dunia. Pada masa itu belum ada ‘belalai gajah’ yang digunakan untuk naik ke pesawat. Para penumpang naik turun pesawat dengan memakai tangga dorong. Perhatikan juga gaya orang berduit yang naik pesawat pada waktu itu: kebanyakan memakai hem panjang lengan, pantalon berkaki lebar buatan tailor terbaik, sepatu bertumit agak tinggi, dengan rambut yang sedikit agak gondrong yang licin oleh minyak Tancho atau Sitakom. Melihat foto ini tentu kita ingat pula koreografer Minangkabau Huriah Adam. Pesawat Merpati yang ditumpanginya hilang di sekitar perairan Painan pada 10 November 1971 dalam penerbangan dari Jakarta ke Padang. Jasad Huriah dan para penumpang lainnya hingga kini tak pernah ditemukan.

Tentu pada masa itu baru segelintir orang berkantong tebal yang hanya bisa naik pesawat terbang. Kebanyakan perantau Minang di zaman itu pergi ke rantau atau balik ke kampung dengan naik bis atau naik kapal laut. Kini naik pesawat bagi orang Minang sudah menjadi pengalaman biasa. Jika kita lihat postingan-postingan fb orang awak, tiok cacah mereka berada di bandara. Tapi Merpati yang dulu membanggakan itu, kini sudah tidak lagi mampu terbang tinggi. Rupanya setinggi-tinggi terbang Merpati, akhirnya patah sayap juga.


sumber:Suryadi – Leiden, Belanda (Sumber foto: Andika Zamorano Sumpadang via FB Sumatera Barat Tempo Dulu)

0 Comments


EmoticonEmoticon